Lebih Dari Sekadar Kata
Yeka Hendra Fatika, Anggota Ombudsman RI. (Foto/istimewa)

Ombudsman Jelaskan Faktor-faktor Pemicu Harga Beras Melambung

Katakata.id – Anggota Ombudsman RI Yeka Hendra Fatika membeberkan faktor-faktor pemicu harga beras terus melambung tinggi dan kini stoknya menipis.

Pertama, kata Yeka, pemerintah tak mampu melakukan mitigasi sejak awal mencegah lonjakan harga dan menipisnya stok beras di pasar eceran.

“Setiap tahun bulan Januari dan Februari itu kita selalu mengalami kekurangan. Apalagi ini di tengah-tengah Pemilu. Kemarin juga kita mengalami El Nino. Artinya, kondisi seharusnya sudah dimitigasi oleh pemerintah sejak pertengahan tahun lalu,” katanya dikutip CNBC Indonesia, Selasa (20/2/2024).

“Ombudsman menyayangkan pemerintah tidak mampu melakukan mitigasi sehingga kondisi ini terjadi,” kata Yeka.

Ia menyeselkan respons Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Perum Bulog. Sebab, jelasnya, seharusnya Bapanas maupun Bulog tak menggelontorkan beras Bulog ke pedagang. Beras yang dimaksud adalah yang disalurkan lewat program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP), metode operasi pasar terbaru oleh Bulog. Lewat SPHP ini, Bulog menyalurkan beras cadangan pemerintah (CBP) lewat berbagai rantai pasok, seperti pedagang di PIBC, ritel modern, pasar, dan mitra Bulog.

“Seharusnya beras SPHP jangan diberikan kepada pedagang. Tapi, lakukan langsung operasi pasar beras ke konsumen. Langsung ke masyarakat, supaya manfaatnya bisa langsung diterima. Datangi perumahan-perumahan, kantor-kantor kelurahan-kecamatan-desa, gelar operasi pasar di situ,” ujarnya.

“Harga beras Bulog ini kan jauh lebih murah dari harga pasar. Saya yakin masyarakat merindukan operasi pasar Bulog model ini. Pemerintah jangan hanya sibuk mengurusi bantuan pangan yang menyasar masyarakat miskin. Kan masyarakat kita ada juga kelompok menengah yang kini menghadapi persoalan harga beras mahal,” tukasnya.

Yeka mengakui, sistem operasi pasar metode lama itu akan melelahkan bagi Bulog. Namun, kata dia, perlu dilakukan mengingat operasi pasar versi SPHP sampai saat ini tak efektif menekan harga beras.

“Memang capek, tapi kan dulu Bulog sudah pernah melakukan itu,” ujarnya.

Apalagi, lanjutnya, tidak di semua gerai ritel modern beras SPHP tersedia. Terbukti, imbuh dia, sebagian besar masyarakat kini membeli beras di toko sembako. Akibatnya, permintaan di warung sembako-pasar tradisional tetap tinggi, menyebabkan laju kenaikan harga tak terkendali.

“Sudah berapa lama harga beras terus naik? Bahkan kini ada yang sudah jual Rp20.000 per kg,” ujarnya.

Ketiga, lanjut Yeka, stok beras di PIBC saat ini patut dipertanyakan. Seharusnya, kata dia, dengan posisi stok beras di PIBC-Food Station saat ini, kelangkaan di sejumlah titik bisa dicegah.

“Coba cek stok di Food Station Cipinang saat ini. Kita lihat pemasukan itu sekitar 3.000 ton, tapi pengeluaran bulan lalu hanya sekitar 2.200 ton. Pertanyannya, mengapa Cipinang tak menggelontorkan semua beras yang masuk? Kalau misalnya ada 34.000 ton, seharusnya volume yang dikeluarkan itu bisa dinaikkan jadi 2 kali lipat saat ini. Kan sebentar lagi sudah masuk musim panen,” ungkapnya.

“Beras di Cipinang jangan ditahan dong. Itu namanya sangat tidak peka terhadap kondisi masyarakat saat ini yang sudah kesusahan akibat kenaikan harga beras,” kata Yeka.

Karena itu, kata Yeka, Ombudsman menyarankan pemerintah segera mengguyur pasar konsumen dengan operasi pasar beras Bulog. Dan mendorong agar aliran beras dari Cipinang semakin banyak dengan laju lebih cepat.

“Ini juga yang membuat SPHP yang disalurkan lewat pedagang jadi tidak efektif. Karena beras di Cipinang itu banyak. Keluarkan beras dari Cipinang dengan volume lebih banyak, 2 kali lipat, misalnya jadi 4.000-6.000 ton (per hari),” katanya.

“Di saat bersamaan, mulai siapkan langkah mitigasi ke depan. Termasuk mendatangkan beras impor dengan harga terjangkau. Ini menyangkut diplomasi,” tegas Yeka.

Karena itu, kata Yeka, Ombudsman menyarankan pemerintah segera mengguyur pasar konsumen dengan operasi pasar beras Bulog. Dan mendorong agar aliran beras dari Cipinang semakin banyak dengan laju lebih cepat.

“Ini juga yang membuat SPHP yang disalurkan lewat pedagang jadi tidak efektif. Karena beras di Cipinang itu banyak. Keluarkan beras dari Cipinang dengan volume lebih banyak, 2 kali lipat, misalnya jadi 4.000-6.000 ton (per hari),” katanya.

“Di saat bersamaan, mulai siapkan langkah mitigasi ke depan. Termasuk mendatangkan beras impor dengan harga terjangkau. Ini menyangkut diplomasi,” tegas Yeka.

Sumber: CNBC Indonesia

Print Friendly, PDF & Email

KataTerkait

Lepas Kontingen Perkemahan Wirakarya Nasional, Gubri: Jaga nama baik Riau

rasid

IZI Riau dan Rohis Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru Santuni anak yatim

rasid

Sempat Video Call Pakai Seragam Polisi Cilik, Kapolri Jenguk Sinta Aulia Yang Sakit Tumor Kaki

rasid