Lebih Dari Sekadar Kata
Pengamat Politik asal Unri (Kiri) dan Anggota DPR RI Muhammad Rahul (Kanan). (Foto : kolase)

Rahul pimpin Gerindra Pekanbaru, pengamat nilai akan timbulkan riak

KataKata.id – Politikus muda Partai Gerindra, Muhammad Rahul, ditunjuk menjadi Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kota Pekanbaru partai besutan Prabowo Subianto itu. Surat Keputusan penunjukan Rahul ini langsung diserahkan DPD Gerindra Riau, H Nurzahedi Tanjung.

Rahul yang merupakan anggota DPR RI periode termuda ini, adalah putra politikus Demokrat dan anggota DPR RI, Muhammad Nasir, serta kemenakan mantan Bendaraha Umum Partai Demokrat M Nazaruddin.

Kehadiran Anggota DPR RI Komisi III ini memuncaki Partai Gerindra Kota Pekanbaru, menurut pengamat politik asal Universitas Riau Tito Handoko, adalah sebuah kejutan. Karena Rahul tidak pernah dijagokan dan tidak pernah disebutkan namanya dimunculkan dalam percaturan Partai Gerindra Pekanbaru.

“Namun, Partai Gerindra memiliki mekanisme sendiri dalam penunjukan pimpinan di tingkat Cabang maupun Daerah, dan ini memang mendistorsi prinsip demokrasi lokal,” kata Tito melalui keterangan tertulis, yang diterima KataKata pada Jum’at (23/7/2021).

Tito menjelaskan, pada dasarnya gejala ini tidak hanya terjadi di Gerindra tetapi juga di partai-partai lain, yang penunjukan kepemimpinan di tingkat lokal ditentukan oleh struktur yang lebih tinggi di atasnya atau memang oleh DPP secara mutlak.

Menurutnya, bangunan prinsip demokrasi lokal memang tampak rapuh. “Pilihannya sederhana saja, stabilitas atau distabilitas pengelolaan partai. ujungnya adalah legitimasi DPP yang digunakan untuk mata rantai konflik di tingkat lokal ujar Tito.

“Ditetapkannya Rahul sebagai Ketua DPC Partai Gerindra Kota Pekanbaru sekaligus menjawab tesis resentralisasi yang dimulai dari tubuh partai politik. legitimasi yang dibangun tetap akan menimbulkan riak mengingat Rahul tergolong ‘anak kemarin sore’ di Gerindra, dan banyak senior yang telah berdarah-darah besarkan Gerindra di Kota Pekanbaru,” sambungnya.

Tito menjelaskan, tantangan melakukan konsolidasi antara senior dan junior akan dihadapi oleh legislator asal Daerah Pemilihan Riau I itu. Dan tentu saja dalam perjalanannya akan dibuktikan dengan tercapai atau tidaknya target pemenangan Partai Gerindra pada 2024.

Selain itu, Dosen Ilmu Pemerintahan Fisip Unri menilai, pola-pola tangan besi DPP mengingatkan publik pada pengelolaan partai politik masa Orde Baru yang semuanya ditentukan oleh pusat. Masyarakat juga tidak terlalu peduli dengan dinamika di tubuh politik karena tidak ada untung ruginya selain lima tahun, dan ini juga menjadi preseden buruk bangunan demokrasi lokal yang mengharapkan tingkat partisipasi publik.

“Sementara bagi kader Partai Gerindra, gejolak batin pasti mereka rasakan, apalagi Rahul secara ‘family stories’ dibesarkan dalam Partai yang berbeda,” tutupnya.**

 

Reporter : Rasid Ahmad

Print Friendly, PDF & Email

KataTerkait

Ketua Relawan Anies Dikeroyok OTK, Polisi Selidiki

rasid

Manuver Agung Nugroho Diawasi Lawan Politik, Ini Analisis Pengamat

rasid

Hasil Survei Poltracking Terkait Peta Politik Elektoral Pilpres 2024 Pasca Pendaftaran Resmi Capres-Cawapres

rasid