Lebih Dari Sekadar Kata
Aksi Koalisi Gerakan Puasa Sampah di salah satu titik penumpukan sampah yang berada di badan jalan di Pekanbaru (Foto : Dok. Tim Koalisi Gerakan Puasa Sampah)

Pantauan GPS plastik, sampah masih menumpuk di badan jalan

KataKata.id – Pasca penanda tanganan kontrak kerja sama pengangkutan sampah antara Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Pekanbaru antara PT Godang Tua Jaya dan Samhana Indah sebagai pihak pengelola pada 18 Maret lalu, Koalisi Gerakan Puasa Sampah (GPS) Plastik melihat perlu adanya sosialisasi, pembinaan dan evaluasi dalam pengelolaan sampah oleh DLHK Kota Pekanbaru.

Dalam kontrak tersebut, PT Godang Tua Jaya mengelola pengangkutan sampah di zona satu, meliputi Kecamatan Binawidya, Tuah Madani, Payung Sekaki dan Marpoyan Damai. sedangkan untuk PT Samhana Indah mengelola pengangkutan sampah di zona dua meliputi Kecamatan Bukit Raya, Sukajadi, Pekanbaru Kota, Senapelan, Lima Puluh, Sail, Tenayan Raya dan Kulim.

Aksi Koalisi Gerakan Puasa Sampah di salah satu titik penumpukan sampah yang berada di badan jalan di Pekanbaru (Foto : Dok. Tim Koalisi Gerakan Puasa Sampah)

“Selain swastanisasi pengangkutan sampah, DLHK Kota Pekanbaru harus melakukan sosialisasi terkait pembatasan sampah plastik kepada masyarakat, oleh Kasi Peningkatan Kapasitas Informasi dan Komunikasi Lingkungan DLHK Pekanbaru,” Kata ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) Universitas Riau, Ilham Riyanda melalui keterangan tertulis yang diterima KataKata, Sabtu (11/9/2021).

Tim GPS Plastik turun di beberapa lokasi yang masih menemukan tumpukan sampah khususnya sampah plastik seperti di jalan Lintas Sumatera (Dekat Jembatan Siak 2), Air Hitam, Pasar Pagi Arengka, Soekarno Hatta, Sumber Sari dan Tengku Umar.

Dari pantauan di lapangan terlihat penumpukan sampah masih berulang di lokasi tersebut.

“DLHK Kota Pekanbaru belum merata dalam menyediakan sarana dan wadah pemilahan sampah di kawasan pemukiman, komesrsial, industri, pasar, fasilitas umum dan khusus,”  ujar Agus Tri Nur Huda dari Wanapalhi STMIK Amik Riau.

Penggunaan produk sekali pakai dalam aktifitas harian, diharapkan sebisa mungkin manfaatkan kembali barang tersebut agar tidak menjadi sampah dan berakhir di TPA, insenerator atau bahkan mengalir ke sungai dan laut. pola pembatasan produk plastik harus mulai kita lakukan agar terbiasa dan menjadi budaya ramah lingkungan.

“Kedepannya kita tidak mau melihat sampah plastik di sungai dan laut yang mengganggu biota laut seperti ikan yang sering kita konsumsi,” kata Hardinan Haniel dari Mapala Suluh FKIP Unri.

Tim GPS Plastik juga mendukung gugatan warga dalam hal menggugat Walikota Pekanbaru, DPRD Koa Pekanbaru dan Kepala Dinas LHK Kota Pekanbaru atas kerugian warga terkait pengelolaan sampah khususnya sampah plastik sekali pakai yang dilayangkan oleh Tim Advokasi Sapu Bersih di Pengadilan Pekanbaru pada 16 September nanti.

“Salah satu bentuk kesadaran kolektif warga dengan cara melakukan koreksi agar target – target 30 persen dalam mengurangi sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga dan 70 persen dalam penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga pada tahun 2025 tercapai,” tutup Ilham Riyanda.

 

Reporter : Rasid Ahmad

Print Friendly, PDF & Email

KataTerkait

Kadis DLHK Riau klaim program sekat kanal berhasil cegah karhutla

rasid

Kwarda Riau Gelar Lomba Gugus Depan Ramah Lingkungan 2023

rasid

BKSDA Riau Ungkap Penyebab seekor Gajah Mati di Pelalawan

rasid