Lebih Dari Sekadar Kata
Komunitas Lingkungan di Pekanbaru Diskusi soal Film Pulau Plastik ( Foto : tangkapan layar zoom meeting ngobrol Pulau Plastik )

Kata Komunitas Lingkungan Pekanbaru tentang film Pulau Plastik

KataKata.id – Pulau Plastik merupakan Film Dokumenter yang mengangkat persoalan lingkungan. persoalan yang diangkat yakni betapa buruknya pengelolaan sampah di Indonesia.

Ditambah lagi budaya masyarakat kita masih belum memiliki kesadaran bahwa membuang sampah ke laut atau sungai ternyata itu bisa menyebabkan pencemaran lingkungan yang luar biasa.

“Fim ini sebagai sarana untuk mengedukasi teman – teman pemula yang belum paham tentang lingkungan. Terutama mengenai masalah sampah plastik. Sampah plastik sangat berdampak sekali pada lingkungan. Pencemarannya sangat besar ,” kata Koordinator Partnership dan sponsorship core Team WCD Riau, Ade Surya Dwi Putra saat menjadi pemantik pada diskusi ngobrol Film Pulau Plastik, Selasa (31/8/2021).

“Sampah plastik merusak alam dan lingkungan serta merusak habitat hewan yang hidup di laut seperti ikan. Ikan di laut itu memakan sampah plastik,” terangnya.

“Film itu meneliti bagaimana mikro plastik masuk ke dalam tubuh hewan yang ada di laut sehingga ikan itu terkontaminasi sampah plastik,” ujar Ade.

“Film ini membuktikan adanya penumpukan sampah di laut. Bali, Yogyakarta dan Jakarta sudah menggelar pawai edukasi sampah plastik secara serentak di bundaran HI pada bulan Juni lalu.pawai itu merupakan bagian dari kampanye bagaimana masyarakat harus sudah mulai hidup ramah lingkungan,” ungkapnya.

Berkaca pada persoalan sampah di Pekanbaru peraturan daerahnya sendiri sering berubah – rubah.

“Pekanbaru kan Perdanya sering berubah – ubah. tidak ada yang konsisten. Harus ada kerjasama dengan stake holder lain untuk mencarikan solusi terhadapa persoalan sampah ini,” kata Ade.

Menurutnya, masih banyak masyarakat di Pekanbaru membuang sampah di sungai. makanya perlu edukasi nyata kepada masyarakat.  Cara mengedukasinya bisa seperti memberikan penghargaan kepada masyarakat yang berhasil mengurangi penggunaan sampah plastik. penghargaanya bisa berupa memberikan sedotan yang tidak berbahan plastik sehingga masyakarat memiliki gaya hidup Eco life style. hal lain yang juga bisa dilakukan yakni menyediakan tempat sampah organik dan nonorganik di rumahnya masing- masing.

“Intinya bagaimana mengurangi penggunaan sampah plastik lambat laun yang kita harapkan masyarakat bisa menghentikan penggunaan sampah plastik,” tambahnya.

“Kita berharap pemerintah mau bekerjasama dengan NGO – NGO bidang lingkungan. agar  sama – sama menangani persoalan sampah ini,” tutup Ade.

“Kita ada program susur sungai. kita menemukan ada 17 titik persoalan sampah di sungai. temuan itu berada di kota Pekanbaru. terbanyak kita temukan itu di daerah Senapelan,” kata ketua Spot Mancing, Surya Dharma sebagai penanggap pada diskusi ngobrol pulau plastik.

Menurutnya, kesadaran masyarakat sangat rendah. kita semua harus berperan. tidak hanya pemerintah saja. kesadaran kita sendiri saja masih sedikit terkait lingkungan ini.

“Kita bisa ikut membantu, menjaga dan melindungi alam agar lingkungan tidak rusak,” terang Surya.

“Meminimalisir sampah tidak hanya melalui Perda. mulailah kita menumbuhkan kesadaran di lingkungan terkecil,” sambungnya.

“Mengenai sampah plastik yang paling banyak ditemukan itu didaerah sungai. 80 persen sampah plastik itu berada di sungai. kalau dihulu seperti kayu dan ranting pohon yang kita temukan,” ungkapnya.

“Sampah limbah masyarakat ini yang tidak bisa terurai secara alami,” terangnya.

“Aliran sampah yang keluar dari sungai siak tidak hanya air lagi yang mengalir tapi sampah plastik pun ikut terseret,” tukasnya.

Reporter : Rasid Ahmad

Print Friendly, PDF & Email

KataTerkait

Pipa Gas Milik Pertamina di Prabumulih Meledak, 2 Orang Mengalami Luka Bakar

rasid

Kadis DLHK Riau klaim program sekat kanal berhasil cegah karhutla

rasid

Apel Kesiapsiagaan Karhutla, Ini Pesan Syamsuar Kepada Masyarakat Riau

rasid