Lebih Dari Sekadar Kata
Pungungkapan kasus OTT pungutan liar oknum Kepala Desa di Rokan Hulu. [Foto : Humas Polda Riau]

Oknum Kades di Rohul Terjaring OTT Pungli pengurusan surat tanah

Katakata.id – Peresmian Jembatan Sei Siasam di Desa Rokan Timur, Kecamatan Rokan IV Kota, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) oleh Gubernur Riau, Syamsuar dan Wakil Gubernur Riau, Edy Natar Nasution pada Rabu (20/10/2021), tanpa kehadiran kepala desa setempat, Soewardi Soeryaningrat alias Wardi.

Pasalnya, Kades Rokan Timur Soewardi Soeryaningrat tersebut telah ditangkap Tim Unit III Tindak Pidana Korupsi Satuan Reserse dan Kriminal (Tipidkor Satreskrim) Polres Rohul satu hari sebelumnya, Selasa (19/10/2021), dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) melakukan pungutan pembuatan SKRT dan SKGR di kantor desa.

“Operasi Tangkap Tangan terhadap Kades Soewardi dan Kaur Tata Usaha Sukron ini merupakan tindak lanjut dari keluhan dan pengaduan warga ke Polres Rohul tentang proses pembuatan SKRT dan SKGR, yang setiap persilnya dipungut biaya Rp 2 juta oleh pelaku,” terang Kapolres Rohul AKBP Wimpi kepada wartawan, Kamis (21/10/2021).

Wimpi mengaku usai menerima laporan pengaduan warga tersebut, pihaknya langsung memerintahkan Unit III Tipikor Satreskrim Polres Rohul melakukan penyelidikan ke lapangan.

“Jadi, pada Selasa (19/10/2021), sekitar pukul 15.45 WIB, Unit III Tipikor Polres Rokan Hulu memperoleh informasi kembali tentang adanya masyarakat yang akan membuat Surat Keterangan Riwayat Tanah (SKRT) dan Surat Keterangan Ganti Kerugian (SKGR). Tim kemudian menyelidiki ke kantor Desa Rokan Timur dan terbukti. Kita temukan aksi pungutan untuk 10 persil yang dikenakan biaya masing-masing Rp 2 juta. Total Rp 20 juta,” jelas mantan Kapolres Kepulauan Meranti tersebut.

Di dalam ruangan Kades, kata Eko Wimpiyanto, ditemukan dan diamankan 10 persil SKRT dan SKGR sedang dikoreksi dan ditandatangani oleh Kades Soewardi.

“Kades dan Kaur TU serta barang bukti langsung kita bawa ke Mapolres Rohul untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” kata Wimpi.

“Atas perbuatannya ini, pelaku dijerat pasal 12 huruf (e) undang undang no.31 tahun 1999 sebagai mana diubah dengan undang undang nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo pasal 55 KUH-Pidana ancaman hukuman paling singkat 4 tahun paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit 200.000.000 paling banyak 1.000.000.000,” tutupnya.

Reporter : Rasid Ahmad
Print Friendly, PDF & Email

KataTerkait

Pendukung Lukas Enembe Sempat Anarkis dan Lempari Mako Brimob Papua

rasid

Serahkan Peralatan Sabhara dan Reskrim, Kapolda: Gunakan Secara Mahir

rasid

Amnesty International Indonesia sebut September hitam, berikut penjelasannya

rasid