Lebih Dari Sekadar Kata
Ilustrasi Ritel. (Foto: Rasid Ahmad)

Penjualan Ritel Anjlok Ditengah PHK Massal Merebak di Tanah Air

Katakata.id – Pertumbuhan penjualan ritel yang dicerminkan oleh Indeks Penjualan Riil (IPR) anjlok pada September 2022. Pertumbuhan melandai karena menurunnya penjualan bahan bakar minyak (BBM), peralatan rumah tangga, dan rekreasi.

Penurunan IPR terjadi setelah kenaikan harga BBM Subsidi dan di tengah merebaknya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di Tanah Air.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), IPR pada September 2022 tercatat 198,1. IPR yang berada di bawah 200 adalah untuk pertama kalinya sejak Oktober 2021 atau terendah dalam setahun terakhir.

Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, penjualan ritel tumbuh 4,6% pada September 2022. Pertumbuhan tersebut jauh lebih rendah dibandingkan Agustus yang tercatat 4,9%.

Secara bulanan (month to month/mtm), IPR diperkirakan mengalami kontraksi sebesar 1,8%. Artinya, IPR sudah terkontraksi sejak Mei 2022 atau lima bulan. Pengecualian terjadi pada Agustus yang naik.

Sejumlah kota masih mencatatkan kontraksi IPR pada Juni (mtm) yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Manado. Survei BI menunjukkan IPR masih akan tumbuh melandai 4,5% pada Oktober 2022 menjadi 204,3.

Pada September 2022, terjadi penurunan tajam di hampir semua kelompok penjualan mulai dari suku cadang aksesori, minuman & tembakau, bahan bakar kendaraan bermotor, jasa informasi dan komunikasi, peralatan rumah tangga lainnya, serta budaya dan rekreasi.

Sebagai catatan, pemerintah menaikkan harga BBM subsidi Pertalite dan Solar pada 3 awal September 2022.

Kontraksi tertajam terjadi pada kelompok suku cadang dan aksesori yakni 12,5% (mtm), kelompok makanan dan minuman terkoreksi 0,6%, kelompok sandang terkontraksi 8,3%, bahan bakar kendaraan terkoreksi 7,2%, kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya terkontraksi 5,5%, kelompok budaya dan rekreasi terkontraksi 6,5%, serta budaya dan rekreasi yang terkoreksi 6,5%.

Secara tahunan (year on year/yoy), kelompok bahan bakar masih tumbuh 8% sementara kelompok sandang melesat 34,6%.

Kontraksi besar terjadi pada peralatan komunikasi dan informasi yang mencapai 22,1% (yoy). Peralatan rumah tangga lainnya terkontraksi 6,8%, dam kelompok suku cadang dan aksesori juga terkontraksi 0,1%. Kelompok budaya dan rekreasi tumbuh 7,1%.

Survei BI juga menunjukkan, pada Oktober 2022, penjualan suku cadang dan aksesori, penjualan bahan bakar kendaraan bermotor, serta perlengkapan rumah tangga masih terkontraksi secara tahunan (yoy).

Sementara itu, kelompok penjualan yang tumbuh adalah barang budaya serta rekreasi dan makanan, minuman, dan tembakau. Secara bulanan (mtm), penjualan suku cadang dan aksesori menjadi satu-satunya kelompok yang masih terkontraksi pada Oktober 2022.

Kelompok lainnya tumbuh (mtm) pada Oktober termasuk makanan, minuman, dan tembakau serta perlengkapan rumah tangga lainnya.

Mengutip cnbcindonesia, Bank Indonesia memperkirakan penjualan eceran pada Desember 2022 dan Maret 2023 (3 dan 6 bulan yang akan datang) akan meningkat. Indeks ekspektasi penjualan (IEP) Desember 2022 dan Maret 2023 masing-masing tercatat 152,0 dan 144,4 atau naik dibandingkan 149,4 dan 137,4 pada bulan sebelumnya.

“Peningkatan pada Desember dan Maret didorong oleh perayaan keagamaan Natal dan periode Ramadhan sehingga mendorong permintaan di tengah kelancaran distribusi barang dan strategi program promosi,” tulis Bank Indonesia.

Dari sisi harga, survei BI memperkirakan tekanan inflasi pada Desember 2022 dan Maret 2023 (3 dan 6 bulan mendatang) akan meningkat.

Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Desember 2022 dan Maret 2023 masing-masing tercatat 146,0 dan 140,7 dari 135,4 dan 138,7 pada bulan sebelumnya. (CNBC Indonesia)

Print Friendly, PDF & Email

KataTerkait

Anggota Komisi VII DPR Minta Kementerian ESDM Batalkan BSP Sebagai Pengelola Blok CPP

rasid

Walikota Dumai Tandatangani Naskah Kerjasama Dengan BRGM

rasid

Anak Chairul Tanjung Berikan Tips Mengembangkan Ekonomi Kreatif

rasid