Lebih Dari Sekadar Kata
Paparan Asumsi Makro RAPBN 2022 oleh INDEF ( foto : tangkapan layar Youtube INDEF)

Pemerintah menargetkan 5,5 persen pertumbuhan ekonomi 2022, ini respon INDEF

KataKata.id – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memberikan catatan terkait pidato presiden Joko Widodo pada sidang tahunan MPR, DPR, dan DPD, Selasa (17/8/2021).

Jokowi menyebutkan bahwa Pertumbuhan ekonomi 2022 diperkirakan tumbuh kisaran 5 persen hingga 5,5 persen.

Wakil Direktur INDEF, Eko Listiyanto mengatakan, target pertumbuhan ekonomi 5 hingga 5,5 persen  itu merupakan target yang terlalu optimis dan pastinya kurang realistis dengan angka ini. Ketidakpastian pertumbuhan ekonomi itu masih tinggi.

“Kemudian persoalan lainnya adalah ketika target ini kemudian bercabang ada 5 hingga 5,5 ini akan menjadi Mixed Signal bagi dunia usaha untuk bisa memfokuskan kira – kira ini seberapa optimisnya apakah 5 atau 5,5 persen,” katanya pada Diskusi Publik Merespon Pidato Kenegaraan dan Nota Keuangan RAPBN 2022 yang disiarkan melalui Youtube INDEF, Selasa (17/8/2021).

“dibandingkan dengan pidato tahun lalu proyeksi target pertumbuhan ekonomi tahun lalu itu rangenya 1 persen hingga 4,5 sampai 5,5 persen jatuh – jatuhnya minus 2. jadi meleset juga. nah ini mudah – mudahan enggak meleset 5 sampai 5,5 persen. namun ini menurut saya masih sulit untuk kita capai,” terangnya.

Eko menjelaskan, realistisnya mugkin masih dibawah 5 persen. kalau mau mencapai ini catatan saya adalah memang dia butuh dukungan dari konsumsi dari sektor investasi dan ekspor itu secara bersamaan. kalau tiga komponen ini salah satu saja meleset dugaan saya pertumbuhan ekonomi masih dibawah 5 persen.

“Sementara untuk indikator kesejahteraan catatannya, pengangguran 5,5 sampai 6,3 itu sebetulnya kalau kita lihat sampai hari ini datanya masih Februari itu 6,2 atau 6,3 berarti masih perlu upaya ekstra untuk mencapai 5,5 persen ini,” jelasnya.

“Apa yang harus dilakukan ? yang harus dilakukan kalau pemulihan sektor perdagangan, industri dan tentu saja di pandeminya itu teratasi dugaan saya mungkin pengangguran memang bisa diturunkan dibawah 6 persen. tapi kalau nggak ada ini ya susah,” ungkapnya.

“di Pidato itu pak Jokowi menginginkan isu investasi dengan berbagai macam turunan bentuk – bentuk kelembagaan yang dibikin ini kita harapkan benar – benar bisa mendorong penciptaan lapangan kerja sehingga pengangguran bisa sesuai target dan satu lagi jangan lupa kalau mempercepat pemulihan di UMKM maka pengangguran, ya saya optimis bisa diturunkan,” paparnya.

“Karena UMKM itu begitu omset nambah begitu permintaan nambah ya langsung nambah tenaga kerja biasanya begitu,” ujarnya.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo dalam sidang tahunan MPR, DPR dan DPD mengatakan, Pertumbuhan ekonomi 2022 diperkirakan pada kisaran 5,0-5,5 persen. Kita akan berusaha maksimal mencapai target pertumbuhan di batas atas, yaitu 5,5 persen namun harus tetap waspada karena perkembangan COVID-19 masih sangat dinamis.

“Kita akan menggunakan seluruh sumber daya berbasis analisis ilmiah dan pandangan para ahli untuk terus mengendalikan pandemi COVID-19. Dengan demikian, pemulihan ekonomi dan kesejahteraan sosial dapat dijaga serta terus dipercepat dan diperkuat,” katanya dikutip dari Setkab, Selasa (17/8/2021).

Jokowi menjelaskan, tingkat pertumbuhan ekonomi ini juga menggambarkan proyeksi pemulihan yang cukup kuat, didukung oleh pertumbuhan investasi dan ekspor sebagai dampak pelaksanaan reformasi struktural. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat ketidakpastian global dan domestik diperkirakan dapat menyumbang risiko bagi pertumbuhan ekonomi ke depan.

“Inflasi akan tetap terjaga pada tingkat 3 persen, menggambarkan kenaikan sisi permintaan, baik karena pemulihan ekonomi maupun perbaikan daya beli masyarakat. Rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp14.350 per US Dollar, dan suku bunga Surat Utang Negara 10 tahun diperkirakan sekitar 6,82 persen, mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia dan pengaruh dinamika global,” jelasnya.

“Harga minyak mentah Indonesia (ICP) diperkirakan akan berkisar pada 63 US Dollar per barel. Lifting minyak dan gas bumi diperkirakan masing-masing mencapai 703.000 barel dan 1.036.000 barel setara minyak per hari,” tutupnya.

Reporter : Rasid Ahmad

Print Friendly, PDF & Email

KataTerkait

Subsidi Pertalite Sedang Dikaji, Pertamina: Masih Belum Final di Kemenko Perekonomian

rasid

Menkop UKM Teten Masduki Santap Durian di Durian Runtuh Nadhira Napoleon

rasid

Gelar Rakerda, Pengurus Empat Lembaga Profesional Hipmi Riau Dilantik

rasid